|
Potensi Sub Sektor Tanaman Pangan 3.1.1 Sub Sektor Tanaman Pangan
Kontribusi sub sektor Tanaman Bahan Makanan pada tahun 2008 sebesar 24,43 %. terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bone, yaitu sebesar Rp.1.306.951.460.000. Mengalami perkembangan sebesar 17% jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontribusi sub sektor Tanaman Bahan Makanan pada tahun 2008 sebesar 24,40 % , terhadap total PDRB atas dasar harga konstan 2000 Kabupaten Bone, yaitu sebesar Rp. 677.642.160.000. Mengalami pertumbuhan sebesar 8,42% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi sub sektor Tanaman Bahan Makanan pada tahun 2008 sebesar 24,40 % , terhadap total PDRB atas dasar harga konstan 2000 Kabupaten Bone, yaitu sebesar Rp. 677.642.160.000. Mengalami pertumbuhan sebesar 8,42% jika dibandingkan tahun sebelumnya. 3.1.1.1 Padi Komoditas padi di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 117.066 Ha yang menghasilkan 658.441 ton padi atau senilai Rp. 415.648.150 dengan tingkat produktivitas sebesar 56,25 ton/ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas padi pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kec. T. Riattang, T.R Timur, Barebbo, Sibulue, Kahu, Libureng, Bengo, Lappariaja, Dua BoccoE, Cina, Ajangale, Tonra, dan Awangpone didukung 13 Kecamatan lainnya. dengan jumlah petani sebanyak 38.944 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas padi adalah antar Kabupaten di dalam provinsi dan antar pulau atau tergolong perdagangan besar. 3.1.1.2 Jagung Komoditas jagung di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 40.369 ha yang menghasilkan 170.388 ton jagung atau senilai Rp. 281.140.200 dengan tingkat produktivitas sebesar 42,21 ton/ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas jagung pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kec. Kajuara, Lamuru, Ulaweng, Amali, Ajangale, dan T. Siattinge didukung 21 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 15.314 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas jagung adalah antar kabupaten di dalam propinsi dan antar pulau atau tergolong perdagangan besar. Seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai berikut: o Batang dan daun muda : pakan ternak o Batang dan daun tua : pupuk hijau atau kompos o Batang dan daun kering : Kayu Bakar o Batang jagung : pulp (bahan kertas) o Buah jagung muda : sayuran, bakwan dan lain-lain o Biji jagung tua : Pengganti nasi, marning, roti jagung, tepung, bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, bahan baku industri farmasi , dextrim, perekat dan industri tekstil. 3.1.1.3 Kedelai Komoditas kedelai di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 47.389 Ha yang menghasilkan 9.214 Ton kedelai atau senilai Rp. 54.823.300 dengan tingkat produktivitas sebesar 1,94 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kedelai pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kecamatan T. Riattang, T.R. Timur, Barebbo, Palakka, Bengo, Lappariaja, Ponre, Libureng, dan T. Siattinge didukung 17 Kecamatan. dengan jumlah petani sebanyak 8.744 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kedelai adalah di dalam kabupaten. 3.1.1.4 Kacang Hijau Komoditas kacang hijau di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 2.803 Ha yang menghasilkan 4.050 Ton kacang hijau atau senilai Rp. 24.300.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 14,45 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kacang hijau pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kecamatan Tonra dan Salomekko didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 2.402 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kacang hijau adalah antar kabupaten. 3.1.1.5 Kacang Tanah Komoditas kacang tanah di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 12.846 Ha yang menghasilkan 22.772 Ton kacang tanah atau senilai Rp. 182.176.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 17,73 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kacang tanah pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Kajuara, Kahu, dan Patimpeng, dengan jumlah petani sebanyak 14.472 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kacang tanah adalah antar Kabupaten. 3.1.1.6 Ubi Kayu Komoditas ubi kayu di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 663 Ha yang menghasilkan 6.721 Ton ubi kayu atau senilai Rp. 31.588.700 dengan tingkat produktivitas sebesar 101,37 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas ubi kayu pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Tersebar di 27 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 967 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas ubi kayu adalah pasar lokal, antar dalam kabupaten. 3.1.1.7 Ubi Jalar Komoditas ubi jalar di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 321 Ha yang menghasilkan 2.640 Ton ubi jalar atau senilai Rp. 12.144.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 82,24 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas ubi jalar pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Tersebar di 27 Kecamatan. dengan jumlah petani sebanyak 172 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas ubi jalar adalah pasar lokal, antar dalam kabupaten .
3.1.1.8 Bawang Merah Komoditas bawang merah di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 2.467 Ha yang menghasilkan 7.401 Ton bawang merah atau senilai Rp. 135.290.280 dengan tingkat produktivitas sebesar 30 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas bawang merah pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Amali, dan Ajangale didukung 3 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 275 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas bawang merah adalah pasar lokal, antar kabupaten . 3.1.1.9 Bawang Putih Komoditas bawang putih di Kabupaten pada tahun 2007 Bone memanfaatkan lahan seluas 15 Ha yang menghasilkan 47 Ton bawang putih atau senilai Rp. 376.000.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 31,33 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas bawang putih pada tahun 2006 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Tellulimpoe. dengan jumlah petani sebanyak 26 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas bawang putih adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar desa dalam kabupaten. 3.1.1.10 Bawang Daun Komoditas bawang daun di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 8 Ha yang menghasilkan 18,7 Ton bawang daun atau senilai Rp. 37.400.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 23.38 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas bawang daun pada tahun 2006 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani dengan jumlah petani sebanyak 15 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas bawang daun adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar desa dalam kabupaten. 3.1.1.11 Petsai/Sawi Komoditas petsai/sawi di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 742 Ha yang menghasilkan 368 Ton petsai/sawi atau senilai Rp. 1.135.648 dengan tingkat produktivitas sebesar 5,0 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas petsai/sawi pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, Tanete Riattang Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 164 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas petsai/sawi adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar kabupaten. 3.1.1.12 Cabe Komoditas Cabe di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.100 Ha yang menghasilkan 457 Ton Cabe atau senilai Rp. 4.067.300 dengan tingkat produktivitas sebesar 4,2 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas cabe pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Lompoe, T.R. Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 215 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas cabe adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar kabupaten. 3.1.1.13 Tomat Komoditas tomat di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.221 Ha yang menghasilkan 536 Ton tomat atau senilai Rp. 5.941.560 dengan tingkat produktivitas sebesar 4,4 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas tomat pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 183 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas tomat adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.14 Kentang Komoditas kentang di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 16 Ha yang menghasilkan 78,5 Ton kentang atau senilai Rp. 314.000.000 dengan tingkat produktivitas sebesar 49,06 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kentang pada tahun 2006 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani dengan jumlah petani sebanyak 27 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kentang adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar desa dalam kabupaten. 3.1.1.15 Ketimun Komoditas ketimun di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 910 Ha yang menghasilkan 324 Ton ketimun atau senilai Rp. 3.615.192 dengan tingkat produktivitas sebesar 3,6 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas ketimun pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 102 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas ketimun adalah pasar lokal, antar kabupaten.
3.1.1.16 Labu Siam Komoditas labu siam di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 557 Ha yang menghasilkan 190 Ton labu siam atau senilai Rp. 1.493.400 dengan tingkat produktivitas sebesar 3,4 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas labu siam pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 102 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas labu siam adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.17 Terong Komoditas terong di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.033 Ha yang menghasilkan 383 Ton terong atau senilai Rp. 4.157.465 dengan tingkat produktivitas sebesar 3,7 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas terong pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 513 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas terong adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.18 Kacang Panjang Komoditas kacang panjang di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.234 Ha yang menghasilkan 485 Ton kacang panjang atau senilai Rp. 5.661.405 dengan tingkat produktivitas sebesar 3,9 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kacang panjang pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 828 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kacang panjang adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.19 Kangkung Komoditas kangkung di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.248 Ha yang menghasilkan 561 Ton kangkung atau senilai Rp. 2.827.440 dengan tingkat produktivitas sebesar 4,5 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas kangkung pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah : Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 924 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas kangkung adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.20 Bayam Komoditas bayam di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.154 Ha yang menghasilkan 518 Ton bayam atau senilai Rp. 2.587.410 dengan tingkat produktivitas sebesar 4,5 Ton/Ha. Adapun wilayah pengembangan komoditas bayam pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, T. Limpoe, T.R Barat dan didukung 15 Kecamatan dengan jumlah petani sebanyak 211 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas bayam adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.21 Alpukat Komoditas alpukat di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 2.973 Ha yang menghasilkan 339.6 Ton alpukat atau senilai Rp. 1.376.738. Adapun wilayah pengembangan komoditas alpukat pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 278 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas alpukat adalah pasar lokal, antar kecamatan dan antar kabupaten.
3.1.1.22 Belimbing Komoditas belimbing di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.912 Ha yang menghasilkan 283,4 Ton belimbing atau senilai Rp. 823.277. Adapun wilayah pengembangan komoditas belimbing pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 105 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas belimbing adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.23 Duku/Langsat Komoditas duku/langsat di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 25.518 Ha yang menghasilkan 2.729,9 Ton duku/langsat atau senilai Rp. 8.768.438. Adapun wilayah pengembangan komoditas duku/langsat pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 347 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas duku/langsat adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.24 Durian Komoditas durian di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 14.590 Ha yang menghasilkan 2.101,6 Ton durian atau senilai Rp. 7.681.348. Adapun wilayah pengembangan komoditas durian pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 403 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas durian dalam adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.25 Jambu Biji Komoditas jambu biji di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 20.739 Ha yang menghasilkan 2.380,6 Ton jambu biji atau senilai Rp. 2.009.226. Adapun wilayah pengembangan komoditas jambu biji pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 241 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas jambu biji adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.26 Jambu Air Komoditas jambu air di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 2.416 Ha yang menghasilkan 374.0 Ton jambu biji atau senilai Rp. 208.692. Adapun wilayah pengembangan komoditas jambu biji pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 241 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas jambu biji adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.27 Jeruk Komoditas jeruk di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 6.456 Ha yang menghasilkan 864 Ton jeruk atau senilai Rp. 2.151.360. Adapun wilayah pengembangan komoditas jeruk pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 348 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas jeruk adalah pasar lokal, dalam kabupaten. 3.1.1.28 Mangga Komoditas mangga di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 142.900 Ha yang menghasilkan 15.131 Ton mangga atau senilai Rp. 56.302.451. Adapun wilayah pengembangan komoditas mangga pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 675 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas mangga adalah pasar lokal, dalam kabupaten.
3.1.1.29 Nangka Komoditas nangka di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 14.242 Ha yang menghasilkan 1.794 Ton nangka atau senilai Rp. 9.849.060. Adapun wilayah pengembangan komoditas nangka pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 522 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas nangka dalam adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.30 Nenas Komoditas nenas di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 1.669 Ha yang menghasilkan 321 Ton nenas atau senilai Rp. 1.508.058. Adapun wilayah pengembangan komoditas nenas pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 149 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas nenas adalah pasar lokal, antar dalam kabupaten. 3.1.1.31 Pepaya Komoditas pepaya di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 22.455 Ha yang menghasilkan 3.810 Ton pepaya atau senilai Rp. 15.449.550. Adapun wilayah pengembangan komoditas pepaya pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 204 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas pepaya adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.32 Pisang Komoditas pisang di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 405.524 Ha yang menghasilkan 65.386 Ton pisang atau senilai Rp. 646.013.680. Adapun wilayah pengembangan komoditas pisang pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 617 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas pisang adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.33 Rambutan Komoditas rambutan di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 18.699 Ha yang menghasilkan 4.101 Ton rambutan atau senilai Rp. 23.683.275. Adapun wilayah pengembangan komoditas rambutan pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 282 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas rambutan adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.34 Salak Komoditas salak di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 177 Ha yang menghasilkan 39 Ton salak atau senilai Rp. 74.100. Adapun wilayah pengembangan komoditas salak pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya,. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas salak adalah pasar lokal, antar dalam kabupaten.
3.1.1.35 Sirsak Komoditas sirsak di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 2.948 Ha yang menghasilkan 491 Ton sirsak atau senilai Rp. 321.605. Adapun wilayah pengembangan komoditas sirsak pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya, dengan jumlah petani sebanyak 47 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas sirsak adalah pasar lokal, antar dalam kabupaten. 3.1.1.36 Sukun Komoditas sukun di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 20.005 Ha yang menghasilkan 3.925 Ton sukun atau senilai Rp. 8.301.375. Adapun wilayah pengembangan komoditas sukun pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya dengan jumlah petani sebanyak 349 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas sukun adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.37 Melinjo Komoditas Melinjo di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 478 Ha. Yang menghasilkan 77 Ton melinjo atau senilai Rp. 141.680. Adapun wilayah pengembangan komoditas melinjo pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas melinjo dalam adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.38 Petai Komoditas petai di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 940 Ha. Yang menghasilkan 168 Ton atau senilai Rp. 568.512. Adapun wilayah pengembangan komoditas petai pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Sibulue, Barebbo, Cina, Ponre, T. Siattinge, dan 17 Kec. Lainnya dengan jumlah petani sebanyak 48 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas petai adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.39 Buncis Komoditas buncis di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 154 Ha yang menghasilkan 52 Ton buncis atau senilai Rp. 151.580. Adapun wilayah pengembangan komoditas buncis pada tahun 2007 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, Tellu LimpoE, Ponre, dengan jumlah petani sebanyak 143 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas buncis adalah pasar lokal, antar kabupaten. 3.1.1.40 Sawo Komoditas sawo di Kabupaten Bone pada tahun 2007 memanfaatkan lahan seluas 183 Ha yang menghasilkan 45 Ton sawo atau senilai Rp. 15.750. Adapun wilayah pengembangan komoditas sawo pada tahun 2006 di Kabupaten Bone adalah: Kecamatan Bontocani, Tellu LimpoE, Ponre, T. Siattinge, dan 13 Kecamatan lainnya. dengan jumlah petani sebanyak 81 kepala keluarga. Jangkauan wilayah pemasaran untuk komoditas sawo adalah pasar lokal, dalam kabupaten. Analisa peluang pasar Analisa peluang pasar untuk komoditas tanaman pangan baik pasar nasional maupun pasar internasional, padi, jagung dan kedelai memiliki peluang yang lebih besar dibandingkan komoditas lainnya. Beras merupakan makanan yang utama di kebanyakan negara Asia. Beras adalah makanan pokok sumber karbohidrat yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia, Indonesia sendiri yang struktur perekonomian didominasi oleh sektor pertanian namun kebutuhan beras nasional belum mampu terpenuhi oleh produksi beras dalam negeri, karena itu masih selalu mengimpor beras untuk mengantisipasi kebutuhan beras masyarakat. Hal ini merupakan peluang pasar yang dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan produksinya, demikian pula untuk memenuhi pasar manca negara terutama negara-negara Asia yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Dilain pihak, harga beras selalu ditentukan oleh pemerintah dan tidak melepaskan pada mekanisme pasar sehingga petani sering mengalami kerugian. Tanpa perubahan tata niaga beras dan pengurangan campur tangan pemerintah maka agribisnis padi akan tetap kurang diminati oleh investor di bidang pertanian. Permintaan produk jagung nasional belum dapat memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Impor jagung jumlahnya sudah cukup besar terutama dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak yang sedang berkembang dewasa ini. Permintaan kacang kedelai nasional semakin meningkat dari tahun ke tahun, untuk memenuhi kebutuhan industri makanan (susu, vetsin, kue-kue, permen dan daging nabati) dan non makanan (kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil). Permintaan nasional akan komoditasan kacang hijau dan kacang tanah pun semakin meningkat, untuk memenuhi kebutuhan industri makanan (kue-kue, permen, roti dan lain-lain) serta kebutuhan restoran sebagai pelengkap . Khusus untuk kelompok komoditas rempah seperti bawang merah, bawang putih dan cabe selain untuk memenuhi permintaan pasar nasional juga memiliki peluang untuk memenuhi permintaan pasar internasional. Terutama untuk memenuhi kebutuhan industri makanan di dalam negeri maupun di luar negeri.. Komoditas lainnya dari sektor tanaman pangan kelompok sayur-sayuran yaitu; bawang daun, petsai/sawi, cabe seperti tomat, kentang, ketimun, labu siam, terong, kangkung, bayam, sukun, melinjo, petai, buncis dan sawo dan kelompok buah-buahan dan kelompok buah-buahan alpukat, belimbing, duku/langsat, durian, jambu biji, jeruk, mangga, nangka, nenas, pepaya, pisang rambutan, salak, dan sirsak. Semua komoditas tersebut punya peluang untuk memasuki pasar nasional mengingat komoditas-komoditas tersebut sangat dibutuhkan oleh restoran dan rumah tangga untuk melengkapi menu harian. Analisa kemampuan bersaing Jangkauan pemasaran komoditas sub sektor pertanian tanaman pangan sebagian besar masih terbatas didalam kabupaten saja. Namun tetap punya peluang untuk menjangkau pasar nasional mengingat komoditas yang ada sebagian merupakan produk yang dibutuhkan sebagai bahan baku pada industri makanan didalam negeri maupun diluar negeri. Komoditas padi dan jagung memiliki luas wilayah pemasaran yang lebih luas dibanding komoditas lainnya yaitu perdagangan antar kabupaten dan antar pulau yang berarti daya terobos (penetrasi) pasar kedua komoditas semakin luas dan sudah memasuki pasar nasional, yang berarti komoditas padi dan jagung Kabupaten Bone sudah mampu bersaing dengan provinsi lain di Indonesia pada komoditas yang sama. Komoditas padi dan jagung Kabupaten Bone diharapkan kedepannya mampu menerobos pasar internasional mengingat potensi yang dimiliki Kabupaten bone sangat besar. Untuk bersaing dipasar internasional maka perlu meningkatkan kualitas dan dan kuantitas produksi karena akan berhadapan dengan negara-negara pesaing dari mancanegara dengan kemampuan bersaing yang tinggi. Jagung merupakan komoditi tanaman pangan ketiga terpenting setelah gandum dan padi sebagai bahan makanan pokok dunia dan makanan pokok kedua di Indonesia setelah padi, namun produksi jagung nasional belum dapat memenuhi kebutuhan industri dalam negeri terutama untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak. Komoditas kacang tanah Kabupaten Bone memiliki luas wilayah pemasaran antar kabupaten di dalam provinsi (luas wilayah pemasaran regional), ini bisa ditafsirkan komoditas ini memiliki peminat yang terbatas. Namun wilayah pemasaran komoditas ini bisa ditingkatkan jangkauannya menerobos pasar nasional maupun internasional mengingat kacang tanah dibutuhkan oleh industri makanan dalam maupun luar negeri serta potensi lahan yang dimiliki cukup luas yaitu 14.828 Ha yang menghasilkan 22.850 ton pada tahun 2007. Komoditas lainnya seperti kacang hijau, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, bawang merah, bawang putih, bawang daun, petsai/sawi, cabe, tomat, kentang, ketimun, labu siam, terong, kacang panjang, kangkung, bayam, alpukat, belimbing, duku/langsat, durian, jambu biji, jambu air, jeruk, mangga, nangka, nenas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sirsak, sukun, melinjo, petai, buncis dan sawo memiliki luas wilayah pemasaran yang terbatas yaitu hanya di dalam Kabupaten Bone saja namun jangkauan wilayah pemasarannya bisa ditingkatkan mengingat potensi yang dimiliki sangat besar untuk menjangkau pasar di luar kabupaten, terutama kedelai dengan jumlah produksi 7.624 Ton, kacang hijau 3.316 Ton, ubi kayu 5.842 Ton, ubi jalar 3.162 Ton, petsai/sawi 1.445,7 Ton, duku/langsat 5.773,3 Ton, Durian 1.303,5 Ton, Mangga 1.168,7 Ton, pisang 27.341,9 Ton, rambutan 4.901 Ton serta sukun 2.443,5 Ton.
Analisa keterkaitan industri hulu-hilir Kaitan kedepan ( forward-lingkage) Derajat pemencaran (keterkaitan dengan industri hilir) diartikan sebagai seberapa jauh sektor atau industri mampu menciptakan output sebagai input dalam penggunaan akhir sehingga menciptakan penawaran turunan. Komoditas padi dan jagung selain sebagai makanan pokok pertama dan kedua di Indonesia juga dapat menjadi input pada industri makanan misalnya padi diolah menjadi tepung beras, kue basah, kue kering, makanan pendamping ASI, dan lain-lain. Jagung diolah menjadi tepung maizena, kue-kue, roti jagung, bahan campuran kopi, biskuit, pakan ternak, bahan baku industri Farmasi, perekat dan industri tekstil. Komoditas padi juga menjadi input pada industri penggilingan padi. Komoditas kacang kedelai secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama yaitu: olahan dalam bentuk protein kedelei dan minyak kedelei. Dalam bentuk protein kedelai dapat digunakan sebagi bahan industri makanan yang diolah menjadi susu, vetsin, kue-kue, permen dan daging nabati dan untuk industri yang bukan bahan makanan seperti: kertas, cat cair, tinta cetak dan tekstil. Sedangkan olahan dalam bentuk minyak kedelai digunakan sebagai bahan industri makanan berbentuk gliserida sebagai bahan untuk pembuatan minyak goreng, margarin dan bahan lemak lainnya. Sedangkan dalam bentuk lecithin dibuat antara lain: margarin, kue, tinta, kosmetika, insectisida dan farmasi. Komoditas kacang tanah dan kacang hijau juga menjadi input pada industri makanan yaitu merupakan bahan baku susu, kue-kue, biskuit, makanan pendamping ASI dan lain-lain. Ubi kayu, ubi jalar dan kentang menjadi input pada industri makanan yaitu merupakan bahan baku makanan ringan (snack) seperti kerupuk dan kue kering, kue basah, es, dan lain-lain. Komoditas kelompok sayur dan rempah mempunyai keterkaitan industri hulu-hilir yang pendek yaitu langsung dimanfaatkan oleh restoran untuk memenuhi menu harian. Sementara komoditas kelompok buah seperti alpukat, belimbing, duku/langsat, durian, jeruk, mangga, nangka, nenas, pepaya, pisang, rambutan, salak, dan sirsak dapat menjadi input industri makanan, seperti buah kalengan (pengawetan buah), jus buah, manisan buah, es buah, sirop buah, dan lain-lain. Kaitan kebelakang (Backward-linkage) Kaitan kebelakang (keterkaitan dengan industri hulu) diartikan sebagai seberapa jauh suatu sektor menciptakan permintaan turunan (derived demand) dengan kata lain apabila terjadi perubahan pada permintaan akhir akan mempengaruhi perubahan produk yang dipakai sebagai inputnya dalam proses produksi. Apabila terjadi peningkatan pada permintaan akhir pada komoditas tertentu sub sektor tanaman pangan maka akan mempengaruhi kenaikan permintaan pada input pada proses produksi komoditas tersebut. Input yang dipakai dalam proses produksi sub sektor tanaman pangan adalah bibit tanaman, pupuk, air dan peralatan yang digunakan. Analisa kemudahan memperoleh bahan baku Analisa ini merupakan salah satu aspek teknis yang mencerminkan sektor tertentu memperoleh bahan baku untuk produksinya. Bahan baku dapat mendorong kemampuan sektor tanaman pangan dalam produksinya. Sebaliknya bisa menjadi penghambat apabila bahan baku sulit diperoleh. Semua komoditas dari sub sektor tanaman pangan memperoleh bahan baku dalam proses produksinya menunjukkan kesulitan pada tingkat yang terlalu tinggi yaitu sebagian besar bahan baku diperoleh dari dalam negeri yaitu bibit tanaman diperoleh dari swadaya masyarakat, pupuk diperoleh pabrik pupuk dalam negeri, kebutuhan air ditunjang oleh curah hujan yang cukup, pasang surut air laut, irigasi sederhana, irigasi setengah teknis, irigasi teknis. Sebagian peralatan diperoleh dari dalam negeri dan hanya sebagian kecil diperoleh dari luar negeri (impor) yaitu sebagian peralatan mesin yang digunakan dalam proses produksinya. Analisa daya serap tenaga kerja Analisa ini merupakan aspek ekonomi secara makro, ukuran daya serap tenaga kerja adalah elastisitas tenaga kerja dan konsep hulu-hilir atau kaitan antar sektor. Konsep elastisitas tenaga kerja adalah mengukur sampai seberapa jauh pengaruh perubahan produksi (pendapatan) terhadap perubahan tenaga kerja Sub sektor tanaman pangan dikelola oleh 90.422 kepala keluarga yang terdiri dari padi 8.944 KK, jagung 15,314 KK, kedelai 8.744 KK, kacang tanah 14.472 KK, kacang hijau 2.402 KK, ubi kayu 967 KK, ubi jalar 172 KK, bawang merah 275 KK, bawang putih 26 KK, bawang daun 15 KK, petsai/sawi 164 KK, cabe 215 Kk, Tomat 183 KK, kentang 27 KK, ketimun 102 KK, labu siam 85 KK, terong 513 KK, kacang panjang 828 KK, kangkung 924 KK, bayam 211KK, alpukat 278 KK, belimbing 105 KK, duku/langsat 347 KK, durian 403 KK, jambu biji 241 KK, jeruk 348 KK, mangga 675 KK, nangka 522 KK, nenas 149 KK, pepaya 204 KK, pisang 617 KK, rambutan 282 KK, sirsak 47 KK, sukun 349 KK, melinjo 48 KK, petai 143 KK dan sawo 81 KK. Kenaikan permintaan akhir pada berbagai komoditas sub sektor tanaman pangan akan berpengaruh pada kenaikan permintaan tenaga kerja pada industri hulu yang biasa disebut derajat pemencaran (tenaga kerja pada pembibitan tanaman, tenaga kerja pada pabrik pupuk, tenaga kerja pada pabrik yang memproduksi peralatan baik peralatan sederhana maupun peralatan mesin) dan permintaan tenaga kerja pada industri hilir yang biasa disebut derajat kepekaan yaitu industri makanan (tenaga kerja pada pabrik tepung, pabrik roti, pabrik biskuit, pabrik sirop, usaha es buah, usaha buah kalengan, pabrik pakan ternak, margarine, minyak goreng dan lain-lain) dan industri non makanan (tenaga kerja industri farmasi, tinta cetak,cair, perekat dan lain-lain). Analisa kelayakan bagi produsen Analisa ini memperkirakan pendapatan dan biaya bagi produsen komoditi yang terpilih yang selanjutnya akan memperkirakan kelayakan usaha. Kelayakan bisa diukur dengan menggunakan kriteria penilaian keuangan pengembangan komoditas yaitu dengan menggunakan kriteria : payback, net present value, internal rate of return dan benefit cost ratio.
|