Home arrow Pertumbuhan Ekonomi Sektoral arrow Sektor Pertanian arrow Sub Sektor Peternakan
Sub Sektor Peternakan Print E-mail

Kabupaten Bone merupakan salah satu daerah produsen ternak di sulsel, Komoditas peternakan yang dikembangkan  di kabupaten Bone meliputi sapi potong, kerbau, kuda, kambing, ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur dan itik.
Kontribusi sub Sektor Peternakan pada tahun 2007 sebesar 1,65 %. terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Bone, yaitu sebesar Rp.72.803.750.000. Mengalami perkembangan sebesar 10,17% dari tahun sebelumnya.


Kontribusi sub sektor Peternakan pada tahun 2007 sebesar 1,58 %, terhadap total PDRB atas dasar harga konstan 2000 Kabupaten Bone, yaitu sebesar Rp. 40.949.360.000. Mengalami pertumbuhan sebesar 6,59% dari tahun sebelumnya.
Dari segi pemanfaatan lahan di kabupaten Bone memperlihatkan untuk pengembalaan/padang rumput seluas 1.08% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Bone. Dalam perkembangan sub sektor peternakan sebagai sektor yang cukup strategis di daerah ini masih didapatkan berbagai tantangan yaitu: masih rendahnya kualitas mutu/kwalitas produksi dan kurang efisien di berbagai aspek sehingga berdampak terhadap daya saing dan harga ternak untuk menarik minat mitra usaha/investor.


Pemeliharaan ternak Kabupaten Bone masih merupakan peternakan rakyat dengan sistem semi intensif tradisional atau usaha perternakan lahan sempit. Oleh karena itu diusahakan pengembangan ternak skala besar melalui usaha penggemukan sapi sedangkan pengembangan ternak unggas melalui pemamfaatan lahan pekarangan.

Potensi Sub Sektor Peternakan

Ternak besar
Sapi

Populasi sapi di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 143.797 ekor. Jumlah produksi daging sapi pada tahun 2008 sebesar 20.282.567 kg. Wilayah sentra produksi pengembangan ternak sapi di Kabupaten Bone tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bone. Jangkauan wilayah pemasarannya ke 15 Kabupaten yaitu Pinrang, Enrekang, Sidrap, Wajo, Palopo, Makassar, Soppeng, Sinjai, Pare-pare, Tator, Luwu, Barru, Bulukumba, Maros dan Kolaka.
Memelihara Sapi sangat menguntungkan karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk membajak sawah dan kotoran sapi termasuk pupuk organik yang menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih subur.
Organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
• Kulit, sebagai bahan baku tas, sepatu, ikat pinggang, topi dan jaket.
• Tulang, dapat diolah menjadi bahan baku perekat/Lem dan bahan kerajinan.
• Tanduk, sebagai bahan kerajinan misalnya hiasan dinding.

Kerbau
Populasi kerbau di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 6.071 ekor. Jumlah produksi daging kerbau pada tahun 2008 sebanyak 941.005 Kg. Wilayah sentra produksi pengembangan kerbau di Kabupaten Bone tersebar di 11 kecamatan sebagai daerah penghasil utama kerbau yaitu kecamatan Tonra, Bontocani, Kajuara, Mare, Sibulue, Barebbo, Cina, Patimpeng, Salomekko, Kahu.dan Ajangale.
Jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam masih dalam wilayah pemasaran regional atau dalam propinsi yaitu Pinrang, Wajo, Palopo, Makassar, Soppeng, Sinjai, Tator dan maros.

Kuda
Populasi kuda di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 10.934 ekor. Jumlah produksi daging kuda pada tahun 2008 sebesar 1.366.750.
Wilayah sentra produksi pengembangan kuda di Kabupaten Bone tersebar di 8 kecamatan sebagai daerah penghasil utama  kuda yaitu kecamatan Kahu, Libureng, Lappariaja, Lamuru, Bengo, Ulaweng, Amali dan Tanete Riattang Barat, dengan produksi tertinggi di Kecamatan Lamuru dan Tanete Riattang Barat.
Jangkauan wilayah pemasarannya ke 9 Kabupaten yaitu Jeneponto, Wajo, Makassar, Soppeng, Sinjai, Bantaeng, Barru, Bulukumba, dan Maros.
Ternak kecil

Kambing
Populasi kambing di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 10.519 ekor. Jumlah produksi daging kambing sebesar 106.452 kg.
Wilayah sentra produksi pengembangan kambing di Kabupaten Bone tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bone dengan jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam wilayah Kabupaten Bone belum dipasarkan ke kabupaten lain.
Usaha ternak kambing sudah lama dilakukan di Kabupaten Bone sebagai usaha keluarga, namun dalam pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya belum dikelolah secara intensif meskipun telah memeberi hasil yang lumayang.
Unggas

Ayam Buras/Ayam Kampung
Populasi ayam buras di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 1.232.099 ekor. Jumlah produksi daging ayam buras sebesar 862.469 kg.
Produksi telur ayam kampung di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 517.482 kg, dengan produksi tertinggi di Kecamatan Kahu dan Libureng. Harga telur ayam kampung Rp. 1.000,-/Butir.
Wilayah sentra produksi pengembangan ayam buras di Kabupaten Bone tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bone dengan jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam wilayah Kabupaten Bone belum dipasarkan ke kabupaten lain.
Ayam Ras
Produksi daging ayam ras di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebesar 81.549 kg. Produksi tertinggi di Kecamatan Ulaweng dan Kecamatan Tanete Riattang Barat dan sentra produksinya di Kecamatan Kahu, Kajuara, Salomekko, Patimpeng, Libureng, Mare, Cina, Lappariaja, Tellulimpoe, Bengo, Ulaweng, Palakka, Tellu Siattinge, Amali, Cenrana, Tanate Riattang Barat, Tanete Riattang dan Tanete Riattang Timur. Harga daging ayam ras Rp. 50.000/kg .
Produksi telur di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebesar 321.851 kg. Dengan produksi tertinggi di kecamatan Mare, sentra produksi telur ayam ras di Kecamatan Kajuara, Salomekko, Tonra, Patimpeng, Libureng, Mare, Barebbo, Lappariaja, Tellulimpoe, Bengo, Ulaweng, Palakka, Awangpone, Tellu Siattinge, Amali, Ajangale, Dua Boccoe, Cenrana, Tanete Riattang Barat, Tanete Riattang dan Tanete Riattang Timur. Harga telur ayam ras Rp. 1.000,-/Butir.

Ayam Ras Pedaging
Ayam ras pedagingmerupakan ras unggulan hasil persilangan ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging ayam. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen, dengan waktu pemeliharaan  yang relatif singkat dan menguntungkan.
Populasi ayam Ras Pedaging di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 31.078 ekor.  Jumlah produksi daging ayam ras pedaging sebesar 26.416 kg. Jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam wilayah Kabupaten Bone belum dipasarkan ke kabupaten lain.
Ayam Ras Petelur
Populasi ayam Ras Petelur di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 49.669 ekor. Jumlah produksi daging ayam ras petelur sebesar 55.133 kg. Jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam wilayah Kabupaten Bone belum dipasarkan ke kabupaten lain.
Itik
Populasi itik di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebanyak 123.515 ekor. Jumlah produksi daging itik sebesar 117.339 kg.
Produksi tertinggi di Kecamatan Awangpone dan Palakka. Sentra produksinya tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bone kecuali kecamatan Sibulue, Cina, Ponre dan Lamuru.
Produksi telur itik di Kabupaten Bone pada tahun 2008 sebesar 578.050 kg. Dengan produksi tertinggi di Kecamatan Awangpone dan Dua Boccoe. Sentra produksinya di seluruh wilayah Kabupaten Bone kecuali kecamatan Sibulue, Cina, Ponre dan Lamuru. Harga telur itik Rp. 1.500,- /butir. Jangkauan wilayah pemasarannya masih dalam wilayah Kabupaten Bone belum dipasarkan ke kabupaten lain.

 

REKAPITULASI PEMASUKAN TERNAK KAMBING

DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BONE

BULAN NOPEMBER 2008

 

No

Nama Pengusaha

Jumlah Ternak (Ekor)

Ternak Yang Mati (Ekor)

Sisa Ternak (Ekor)

Daerah Asal

Tujuan

Ket

MasukKeluar
1RUDI

707

686

1

20

NTT,NTB,BulukumbaPinrang, Sidrap 
2HERMAN

279

279

-

-

NTT, NTBWaji/Bone, Pinrang 
3H.Massarappi

157

157

-

-

NTTWaji/Bone 
4SOFYAN

253

253

-

-

NTT, NTBSidrap 
5KARYADI

428

420

4

4

NTTPinrang 
6AMIR

44

44

-

-

NTTSidrap 
 

Jumlah

1868

1839

5

24

   

Analisa peluang pasar
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun sebagai ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mensupply kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti makassar dan kota besar lainnya.
Konsumen daging sapi dan kerbau digolongkan sebagai berikut:
  1. Konsumen akhir, Konsumen rumah tangga yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya.
  2. Konsumen dalam negeri, merupakan konsumen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dari pasokan dalam negeri yang belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
  3. Konsumen Asing, yang mencakup karyawan perusahaan dan pelancong dengan porsi yang relatif kecil. Di samping itu juga mungkin terdapat konsumen manca negara yang belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan.
  4. Konsumen industri, merupakan konsumen yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain. Konsumen ini meliputi : Hotel, restoran dan industri pengolahan.

Peluang pasar untuk ternak kuda dan ternak kambing adalah pasar lokal dan pasar kabupaten dan pasar propinsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran dan industri pengolahan.
Peluang pasar untuk ternak ayam buras dan ayam ras pedaging adalah untuk memenuhi permintaan konsumen rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan baik di pasar lokal, pasar regional bahkan jika produksi bisa ditingkatkan dapat memperluas jangkauan wilayah pemasaran hingga  pasar nasional.

 

Peluang pasar untuk ayam ras petelur dan itik baik sebagi bibit maupun telur cukup luas bahkan jika produksi memungkinkan dapat memenuhi permintaan pasar nasional terutama telur bagi industri makanan (kue kering, kue basah, roti dan lainnya) yang tersebar di seluruh nusantara.

Analisa kemampuan bersaing
Jangkauan wilayah pemasaran untuk sub sektor peternakan sebagian sudah memasuki wilayah pemasaran propinsi atau perdagangan antar kabupaten dan sebagiannya lagi masih terbatas pada dalam wilayah Kabupaten Bone.
Ternak sapi, kerbau dan kuda dipasarkan ke beberapa kabupaten dan ke ibukota propinsi yang berarti daya terobos (penetrasi) pasar untuk ketiga jenis ternak ini masih terbatas pada pasar regional namun jika produksi ditingkatkan pada ketiga jenis ternak ini maka bisa menerobos pasar nasional mengingat peluang pasarnya cukup besar meliputi rumah tangga, hotel, restoran, dan industri pengolahan. Jangkauan wilayah pemasaran ketiga jenis ternak ini dapat ditafsirkan bahwa jangkauan pemasaran yang terbatas pada ketiga jenis ternak ini bukan karena peminatnya yang terbatas tetapi produksi yang terbatas tidak memungkinkan untuk dipasarkan pada pemasaran yang lebih besar.

Ternak kambing, ayam buras, ayam ras` pedaging, ayam ras petelur dan itik jangkauan pemasarannya terbatas pada wilayah Kabupaten Bone (pasar lokal) . Hal ini berarti meskipun jumlah produksi pada kelima jenis ternak baik produksi daging maupun telur pada ternak unggas cukup besar namun permintaan dalam kabupaten juga besar sehingga tidak mencukupi untuk dipasarkan di luar Kabupaten. Jika di tahun-tahun mendatang produksi ditingkatkan maka kemungkinan besar dapat dipasarkan pada pasar diluar kabupaten, di luar provinsi (pasar nasional).

Analisa keterkaitan industri hulu-hilir
Kaitan kedepan ( forward-lingkage)
Kaitan ke depan (keterkaitan dengan industri hilir) diartikan sebagai seberapa jauh sektor atau industri mampu menciptakan output sebagai input dalam penggunaan akhir sehingga menciptakan penawaran turunan.
Kaitan ke depan untuk komoditas ternak sapi, kerbau, kuda dan kambing meliputi industri pengolahan daging (usaha pembuatan Bakso, sosis dan daging asap lainnya serta daging olahan kemasan) yang selanjutnya menjadi input bagi pedagang besar, pedagang antara dan pedagang eceran industri pengawetan kulit/pengeringan, yang selanjutnya menjadi input bagi industri pembuatan sepatu, tas dan ikat pinggang setelah itu dipasarkan oleh pedagang besar, pedagang antara dan pedagang eceran dan restoran. Demikian pula untuk produksi daging unggas menjadi input industri pengolahan daging unggas (daging kemasan dan ayam goreng kemasan) dan selanjutnya menjadi input pada pedagang besar, pedagang  antara dan pedagang eceran.
Produksi telur yang dihasilkan oleh ternak unggas menjadi input bagi restoran dan industri makanan misalnya industri roti, biskuit, kue kering dan kue basah lainnya.

Derajat kepekaaan (Backward-linkage)
Kaitan ke belakang (keterkaitan dengan industri hulu) diartikan sebagai seberapa jauh suatu sektor menciptakan permintaan turunan (derived demand) dengan kata lain apabila terjadi perubahan pada permintaan akhir akan mempengaruhi perubahan produk yang dipakai sebagai inputnya dalam proses produksi.
Kaitan kebelakang untuk komoditas ternak meliputi industri makanan ternak, peningkatan produksi dan populasi ternak akan berpengaruh menaikkan permintaan akan pakan ternak.

Analisa kemudahan memperoleh bahan baku
Analisa ini merupakan salah satu aspek teknis yang mencerminkan sektor tertentu memperoleh bahan baku untuk produksinya. Bahan baku dapat mendorong kemampuan sektor  peternakan dalam produksinya. Sebaliknya bisa menjadi penghambat apabila bahan baku sulit diperoleh.
Tingkat kemudahan memperoleh bahan baku untuk meningkatkan produksi ternak menunjukkan tingkat kesulitan yang rendah karena bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri.

Analisa daya serap tenaga kerja
Analisa ini merupakan aspek ekonomi secara makro, ukuran daya serap tenaga kerja adalah elastisitas tenaga kerja dan konsep hulu-hilir atau kaitan antar sektor. Konsep elastisitas tenaga kerja adalah mengukur sampai seberapa jauh pengaruh perubahan produksi (pendapatan) terhadap perubahan tenaga kerja.
 Kenaikan permintaan pada berbagai komoditas ternak akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja pada industri hulu (tenaga kerja pada industri pakan ternak dan industri obat-obatan untuk ternak, pedagang besar, pedagang perantara dan pedagang eceran hasil industri hulu) dan industri hilir (tenaga kerja pada industri pengolahan daging misalnya pembuatan Abon, bakso dan lain-lain, tenaga kerja pada industri pengolahan kulit, pedagang besar, perantara dan kecil hasil produksi industri hilir).

Analisa kelayakan bagi produsen
Analisa ini memperkirakan pendapatan dan biaya bagi produsen komoditi yang terpilih yang selanjutnya akan memperkirakan kelayakan usaha. Kelayakan bisa diukur dengan menggunakan kriteria penilaian keuangan pengembangan komoditas yaitu dengan menggunakan kriteria : payback, net present value, internal rate of return dan benefit cost ratio.

Last Updated ( Wednesday, 21 January 2009 )